<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

Mutiara Hikmah

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, February 03, 2006
Meneladani Zat Yang Mahasuci


Manusia punya standar kesempurnaan. Namun kesempurna apa pun menurut manusia, pasti tidak menjangkau kesempurnaan Allah. Al-Quddus adalah satu nama Allah dalam Asma'ul Husna. Kata Al-Quddus (Yang Mahasuci), dalam Al-Quran sering didampingkan dengan kata Al-Malik (Raja atau Penguasa). Seperti terungkap dalam QS Al-Hasyir [59] ayat 23 dan QS Al-Jumu'ah [62] ayat 1. Hal ini menunjukkan kesempurnaan kerajaan Allah sekaligus menampik adanya kesalahan, pengrusakkan atau kekejaman dari-Nya, akibat kesucian yang Dia miliki.

Dalam kamus Bahasa Arab, Al-Quddus dimaknai sebagai yang suci murni atau yang penuh keberkatan. Dari sini muncul berbagai penafsiran. Salah satunya mengartikan Al-Quddus sebagai yang terpuji dari segala macam kebajikan.
Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa Allah Al-Quddus adalah Dia yang tidak terjangkau oleh indra, tidak dapat dikhayalkan oleh imajinasi, tidak terlintas dalam nurani dan pikiran. Saking sempurnanya, Dia tidak terkejar Dzat-Nya oleh kekuatan indra. Mata tidak bisa melihat Allah. Jangankan Allah yang Mahasuci, pelupuk mata yang paling dekat saja tak mampu dilihat. Indra kita terlalu rendah untuk menjangkau keagungan Allah yang menggenggam alam semesta ini.

Mahasuci Allah dari beranak dan diperanakan. Bagi umat Islam, Allah tidak diserupai dan menyerupai apa pun (laisa kamislihi syai'un). Karena sesuatu itu pasti makhluk, dan setiap makhluk pasti ada kelemahan. Sedangkan Allah mustahil lemah.

Mahasuci Allah secara Dzat dan perbuatan-Nya. Tidak ada perbuatan Allah yang gagal. Mengatakan gagal pada perbuatan Allah pun tidak layak. Allah tidak mungkin gagal berbuat sesuatu. Mahasuci Allah dari yang dianggap sempurna oleh makhluk. Manusia punya standar kesempurnaan. Namun sesempurna apa pun menurut manusia, pasti tidak menjangkau kesempurnaan Allah. Bagaimana mungkin manusia yang serba terbatas bisa menilai kesempurnaan Allah; Dzat penggenggam langit dan bumi?

Mahasempurna Allah dari apa pun yang didugakan makhluk. Kita ini milik Allah, tidak jatuh sehelei rambut pun kecuali atas izin Allah. Kita bahkan tidak berdaya hanya oleh satu gigitan nyamuk.

Teladan Al-Quddus

Ada hikmah yang bisa diambil dari sifat Al-Quddus ini. Pertama, sikapi semua ketetapan Allah dengan prasangka baik. Allah berjanji, "Aku sesuai prasangkaan hamba-Ku". Semua yang Allah takdirkan pasti membawa kebaikan. Maka jadikan setiap kejadian sebagai sarana evaluasi diri. Apa pun yang menimpa, harus dapat mengubah kita jadi lebih baik. Kuncinya husnudzan pada Allah.

Kedua, menyadari bahwa manusia tidak sempurna. Sebagai manusia, apa yang dapat kita banggakan bila tidak memiliki iman? Secara fisik kita kalah oleh binatang. Hanya imanlah yang membuat kita lebih tinggi dari makhluk lainnya. Maka tutuplah pintu kesombongan, dan buka lebar pintu ketawadhuan. Tiada orang yang rendah hati, kecuali Allah akan meninggikan derajatnya. Dengan mengenal Allah, insya Allah kita akan mampu rendah hati.

Ketiga, siap dengan kekurangan orang lain. Kita harus siap dengan kenyataan bahwa orang terdekat kita tidak sempurna. Secara fisik bisa "sempurna", tapi akhlak tidak ada yang sempurna. Kesiapan mental menerima kekurangan orang lain, akan membuat kita lebih bijaksana. Orang yang stres dalam hidup adalah orang yang selalu ingin sempurna dalam segala hal. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Memang kita harus melakukan perencanaan yang matang, persiapan yang optimal, dan pelaksanaan yang hati-hati, tapi kita pun harus siap bahwa manusia itu (sekali lagi) tidak pernah ada yang sempurna. Wallahu a'lam bish- shawab.
Sumber : http://republika.co.id

Posted at 6:51 pm by jalal
Make a comment  

Monday, October 03, 2005
MARHABAN YA RAMADHAN




Assalamu'alaikum wr. wb.

Ramadhan sudah akan menjelang

Pintu segala pahala akan segera dibuka

Saatnya hati lebih dibersihkan lagi

Saatnya amal shalih lebih dilipatgandakan lagi

Saatnya ibadah lebih dikhusyu'kan lagi

Agar Ar-Ra'yan menyambut senang

Agar Allah SWT semakin sayang


Mohon Maaf lahir & batin

Atas segala kekhilafan & dosa yang telah dilakukan

Atas segala perbuatan yang tidak berkenan


Semoga Ramadhan ini...

Semakin meningkatkan kualitas Imtaq kita

Semakin memperkokoh jalinan ukhuwah kita

Semakin mempertebal rasa empati kita terhadap sesama

Allaahumma Aamiin


Wassalamu'alaikum wr. wb.

Posted at 11:28 am by jalal
Make a comment  

Wednesday, August 17, 2005
Dampak Perintah Sujud Dalam Shalat

Apabila anda sedang mengalami stress, atau tensi anda naik, atau pusing yang berkepanjangan, atau mengalami nervous (salah satu jenis penyakit penyimpangan perilaku berupa uring-uringan, gelisah, takut, dan lain-lain). Jika anda takut terkena tumor, maka sujud adalah solusinya. Dengan sujud akan terlepas segala penyakit nervous dan penyakit kejiwaan lainnya.

Inilah salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Muhammad Dhiyaa'uddin Hamid, dosen jurusan biologi dan ketua Departemen Radiasi Makanan di Lembaga Penelitian Teknologi Radiasi.

Sudah lumrah bahwasannya manusia apabila mengalami kelebihan dosis dalam radiasi, dan hidup di lingkungan tegangan listrik atau medan magnet, maka hal itu akan berdampak kepada badannya, akan bertambah kandungan elektrik di dalam tubuhnya. Oleh karena itu, Dr. Dhiyaa' mengatakan bahwa sesungguhnya sujud bisa menghilangkan zat-zat atau pun hal-hal yang menyebabkan sakit.

Pembahasan Seputar Organ Tubuh

Dia adalah salah satu organ tubuh dan dia membantu manusia dalam merasakan lingkungan sekitar, dan berinteraksi dengan dirinya, dan itulah tambahan dalam daerah listrik dan medan magnet yang dihasilkan oleh tubuh menyebabkan gangguan dan merusak fungsi organ tubuh sehingga akhirnya mengalami penyakit modern yang disebut dengan "perasaan sumpeg", kejang-kejang otot, radang tenggorokan, mudah capek/lelah, stress, sampai sering lupa, migrant, dan masalah menjadi semakin parah apabila tanpa ada usaha untuk menghindari penyebab semua ini, yaitu menjauhkan tubuh kita dari segala peralatan dan tempat-tempat yang demikian.

Solusinya?

Harus dengan mengikuti sesuatu yang diridhai untuk mengeliminir hal itu semua, yaitu dengan bersujud kepada Satu-satunya Dzat yang Maha Esa sebagaimana kita sudah diperintah untuk hal itu, dimana sujud itu dimulai dengan menempelkan dahi ke bumi (lantai). Maka di dalam sujud akan mengalir ion-ion positif yang ada di dalam tubuh ke bumi (sebagai tempat ion-ion negatif). dan seterusnya sempurnalah aktivitas penetralisiran dampak listrik dan magnet. Lebih khusus lagi ketika sujud dengan menggunakan 7 anggota badan (dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki) maka dalam posisi ini sangat memudahkan bagi kita menetralisir dampak listrik dan magnet.

Diketahui selama penelitian, agar semakin sempurna proses penetralisiran dampak itu semua, maka sujud harus menghadap ke Makkah (Masjid Ka'bah), yaitu aktivitas yang kita lakukan di dalam shalat (qiblat). Sebab Makkah adalah pusat bumi di alam semesta. Dan penelitian semakin jelas bahwa menghadap ke Makkah ketika sujud adalah tempat yang paling utama untuk menetralisir manusia dari hal-hal yang mengganggu fikirannya dan membuat rileks.




Posted at 5:33 am by jalal
Make a comment  

Tuesday, June 28, 2005
MEMAKNAI HIDUP

Memaknai hidup adalah menjadi sangat penting bagi kita.
Memaknai hidup artinya menetapkan arah, tujuan hidup dan kehidupan serta memahami komponen dasar bagi kita untuk tercapainya sebuah tujuan.

Menurut Jalaludin Rahmat ada beberapa tekhnik mengungkap makna, diantaranya adalah :

# Makna di temukan ketika kita menemukan siapa sebenarnya diri kita.

# Makan juga muncul ketika kita menemukan sebuah pilihan. Hidup menjadi sangat tidak bermakna ketika terjebak pada suatu keadaan seperti ketika tidak dapat menentukan pilihan.

# Makna juga dapat ditemukan ketika kita merasa istimewa, unik dan tak tergantikan oleh orang lain.

Lantas cukupkah makna sekedar makna. Nampaknya tidak demikian, makna sendiri harus memiliki makna. Zohar dan Marshall mengatakan, agar makna memiliki sebuah makna, ia harus diserta semacam kerangka dan batasan. Ketika batasan kita dilanggar, kita akan marah dan akan bertindak. Akan tetapi, jika batasan itu menghilang, kita merasa benar-benar ngeri. apa yang kita lakukan akan kehilangan seluruh maknanya dan kita tidak dapat mengadapi hal ini.


Posted at 10:28 am by jalal
Make a comment  

Sunday, April 10, 2005
BETAPA SEDIKIT KITA BERSYUKUR

Dulu, ada seorang anak kecil, perlahan-lahan ia berusaha mengejar cinta Tuhan-nya, berusaha untuk shalat lima waktu tapi tak pernah bisa, akhirnya suatu ketika keinginan itu terwujud di usianya 9 tahun. Ia begitu bahagia, sangat bahagia sekali...

Tapi alangkah kagetnya ia, usai shalat, seakan ada yang berbisik, "...., umur 20 tahun engkau meninggal..." ia begitu kaget sekali, bertahun-tahun ia hidup dihantui ketakutan, sering jatuh sakit, karena walau sakit sekecil apapun, jika difikir berat, sakit itu sesuai dengan fikiran kita.

Saat cobaan itu datang, yang ada di benaknya hanya satu, bisa menjalani hari-hari dengan baik, tidak terfikir nanti apakah bisa menikah, mengandung dan punya anak. Ia malu terus-terusan menyusahkan orang tua, terkadang jika sakit itu datang, hanya dipendamnya sendiri, airmatanya sering mengalir, sadar akan banyak dosa-dosanya, sadar akan sedikit sekali bekalnya, sadar akan sedikit sekali syukurnya.

Ketika sakit itu reda dan ia kembali sehat, betapa senangnya ia bisa menjalani hari-hari lagi, berusaha mengejar lagi ibadah-ibadahnya yang tertinggal, ia mohon pada Allah diberikan jodoh, namun sang pangeran itu tak kunjung datang.

Silih bergantinya siang dan malam, bilangan hari yang berganti tahun, begitu pun dengan kondisi kesehatannya, anak itu tumbuh menjadi wanita dewasa, dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa aku belum juga dipanggil Tuhan? Sedangkan usiaku sudah menjelang seperempat abad? Ya Allah, bukan maksud hatiku mendahului keputusanMu,...

Dari pengalaman yang panjang, dari jatuh bangun kehidupan, tibalah ia pada suatu kesimpulan, "Aku harus berusaha semaksimal mungkin di dunia ini untuk kehidupanku di akhirat kelak, karena sungguh, batas usia adalah takdir Allah yang tidak boleh kita dahului."

Jikalau kita lebih dalam merenungi hidup yang tinggal sepenggalan ini, kembali menuju Allah akan membuat kita jauh lebih tenang dan bersyukur.

Bersyukurlah kepada Allah, walau bagaimanapun adanya dirimu, karena sungguh tiada ada satu pun yang terjadi, melainkan semua itu adalah atas kehendak-Nya.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim 14 : 7).




Posted at 11:36 am by jalal
Comments (2)